Tarian Tari Baris Gede
Tari Baris Gede merupakan salah satu tarian sakral dari Bali yang ditarikan secara masal dan berkelompok. Tari ini tidak bisa ditarikan disembarang tempat hanya dipentaskan di pura-pura atau untuk keperluan upacara agama atau bisa dikatakan sebagai bagian pelengkap rentetan upacara agama.![]()
Tari Baris Gede ini, merupakan tarian massal, dipentaskan oleh banyak penari oleh penari pria dalam jumlah tertentu sesuai arti di masing-masing desa, yang menunjukan wibawa dan kegagahan sekelompok prajurit. Namun terkadang juga tergantung pada luas tempat menarikannya, jika tempat yang digunakan untuk menari tergolong sempit maka akan ditarikan dari tujuh hingga sepuluh orang saja

Tari Baris Gede merupakan salah satu
dari berbagai jenis tarian baris yang ada di Bali. Tarian ini biasa dipentaskan
saat adanya dipentaskan di pura-pura. Tarian ini juga hampir tersebar di
seluruh daerah di Bali. Tari Baris Gede upacara di pura dan menjadi salah satu
bagian pelengkap dari upacara.
Tari Baris Gede masuk dalam kategori tari sakral yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-8, namun sayang hingga kini tidak Peneliti Tari dari Institut Seni Indonesia (ISI), Denpasar Prof Wayan Dibia, di Denpasar, menuturkan tari Baris Gede merupakan jenis kelompok baris massal yang dapat dipentaskan dalam berbagai versi. Dimana tarian sakral ini ditarikan secara berkelompok dalam jumlah diketahui siapa penciptanya.
"Ada yang satu kelompok delapan penari, bahkan ada sampai 40 penari , ada yang diikat dengan simbul-simbul tertentu, misalnya ditarikan oleh 9 orang karena menggambarkan arah mata angin, senjata-senjatanya itu adalah senjata nawa sanga," kata Prof Wayan Dibia. Menurut Dibia, senjata yang biasanya dipakai dalam Baris Gede juga beragam, dimana ada yang menggunakan tombak, cakra atau tamiang (tameng). Hal ini karena Baris Gede menggambarkan Widiadara (pengawal) yang mengiringi para dewa atau menyambut kedatangan para dewa. Namun di sisi lain Baris Gede ini juga diartikan sebagai tarian prajurit perang
Tari Baris Gede masuk dalam kategori tari sakral yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-8, namun sayang hingga kini tidak Peneliti Tari dari Institut Seni Indonesia (ISI), Denpasar Prof Wayan Dibia, di Denpasar, menuturkan tari Baris Gede merupakan jenis kelompok baris massal yang dapat dipentaskan dalam berbagai versi. Dimana tarian sakral ini ditarikan secara berkelompok dalam jumlah diketahui siapa penciptanya.
"Ada yang satu kelompok delapan penari, bahkan ada sampai 40 penari , ada yang diikat dengan simbul-simbul tertentu, misalnya ditarikan oleh 9 orang karena menggambarkan arah mata angin, senjata-senjatanya itu adalah senjata nawa sanga," kata Prof Wayan Dibia. Menurut Dibia, senjata yang biasanya dipakai dalam Baris Gede juga beragam, dimana ada yang menggunakan tombak, cakra atau tamiang (tameng). Hal ini karena Baris Gede menggambarkan Widiadara (pengawal) yang mengiringi para dewa atau menyambut kedatangan para dewa. Namun di sisi lain Baris Gede ini juga diartikan sebagai tarian prajurit perang
Dalam pementasannya masing-masing
penari membawa senjata seperti tombak, cakra ataupun tameng kemudian mereka
melakonkan perang tanding, karena mereka melambangkan prajurit pengawal yang
menyambut serta mengiringi kedatangan para dewa yang turun ke bumi.Tari Baris Gede ini sendiri sudah ada . Tari
baris jenis ini dibawakan secara kelompok oleh delapan sampai 40 orang, dengan
berbagai pernak-perik pelengkap berupa senjata tradisional yang bervariasi
tergantung asal daerah dari setiap tarian. Baris Gede sebagai tarian skral biasanya dipentaskan oleh
sepuluh penari atau lebih mengenakan pakaian perang yang anggun membawa senjata
tombak, pedang, perisai. Mereka menari dalam barisan dengan posisi agresif
sebelum mereka melakonkan perang tanding satu sama lain.
Kedua pundak penari
diangkat hingga hampir setinggi telinga. Kedua lengan yang nyaris selalu pada
posisi horizontal dengan gerak yang tegas. Gerak khas lainnya yang ada pada
tari baris adalah selendet atau gerak delik mata penari yang senantiasa
berubah-ubah. Gerak ini menggambarkan sifat para prajurit yang senantiasa awas
terhadap situasi di sekitarnya.
